• Ea eam labores imperdiet, apeirian democritum ei nam, doming neglegentur ad vis. Ne malorum ceteros feugait quo, ius ea liber offendit placerat, est habemus aliquyam legendos id.
  • Mari belajar Drama Lewat Blog
  • Ea eam labores imperdiet, apeirian democritum ei nam, doming neglegentur ad vis. Ne malorum ceteros feugait quo, ius ea liber offendit placerat, est habemus aliquyam legendos id.

1 Persiapan materi kelas X mid semester genap:

Selasa, 20 Maret 2012

a. Memahami sastra melayu klasik/cerita rakyat.
Pengertian, karakteristik/ciri-ciri, macam jenis cerita rakyat (hikayat, mite, fabel, dongeng, hikayat  dll),dan unsur-unsurnya.

b. Memahami kata ulang
·                               Jenis-jenis  kata ulang dan contoh kata ulang dalam bentuk kalimat!
·                               Macam-macam makna kata ulang dan contoh macam kata ulang dalam bentuk kalimat.

c. Memahami bagaimana memberi dukungan dan kritikan terhadap suatu ide atau pendapat dari sebuah  
    artikel dalam media cetak lengkap dengan alasan, bukti atau fakta yang mendukung.

d. Memahami paragraf argumentasi/persuasi
·         Pengertian argumentasi/persuasi
·         Ciri-ciri  paragraf argumentasi/persuasi
·         Membuat paragraf persuasif/argumentasi  minimal 10 kalimat sesuai tema.

e. Mencermati puisi dan menganalisis (misl paket hal: 171)
            a. tema,   b. majas,   c. diksi,   d. rima,   e. irama,   f. diksi,    g. citraan/pengindraan,  h. amanat.
           
f. Pelajari soal  uji kompetensi 7 hal 170 dan lks

Selamat belajar!
Read more

24 CERITA RAKYAT

Selasa, 06 Maret 2012


MEMAHAMI CERITA RAKYAT KELAS X

A.          STANDAR KOMPETENSI :
   Mendengarkan :13. Memahami cerita rakyat yang dituturkan

B.           KOMPETENSI DASAR :
   13.1 Menemukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat yang disampaikan secara langsung dan atau melalui rekaman

C.          MATERI PEMBELAJARAN :
   Rekaman cerita rakyat atau yang disampaikan secara langsung
1.         Ciri-ciri cerita rakyat
2.         Unsur-unsur intrinsik (tema, penokohan, latar, alur, sudut pandang)
3.         Nilai-nilai (budaya, moral, agama)
4.         Cara membuat sinopsis
5.         Hal-hal yang menarik tentang tokoh
Materi:
Cerita rakyat mengandung berbagai hal yang menyangkut hidup dan kehidupan masyarakat, misalnya mengenai sistem nilai, kepercayaan dan agama, kaidah-kaidah sosial, dan etos kerja. Oleh karena itu, sejumlah pengamat sosial budaya menyatakan bahwa memahami pandangan hidup masyarakat tidaklah komprehensif jika tanpa mempelajari cerita rakyat. Begitu juga dengan cerita rakyat yang sudah Anda baca pasti mengandung isi dan amanat yang didasari nilai-nilai yang dianut oleh rakyat setempat. Cerita rakyat terdiri atas dogeng, mite, dan legenda dsb.

A.   Macam-macam Cerita Rakyat:
1.    Dongeng adalah cerita rakyat yang tidak dianggap benar-benar  terjadi, termasuk   
       di dalamnya cerita-cerita pelipur lara dan cerita-cerita dengan tokoh binatang (fabel). Dongeng dapat dibagi ke dalam tiga kelompok, yakni (a) dongeng binatang karena semua tokohnya binatang (fabel), (b) dongeng biasa yang di dalamnya terdapat tokoh manusia, dan (c) dongeng jenaka/ lelucon yang di dalamnya terdapat cerita penuh kejenakaan.

2.   Mite adalah  cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan  dianggap suci atau sakral, misalnya cerita tentang tokoh kayangan atau tokoh supranatural yang memiliki kekuatan hebat. Tokoh mite adalah dewa atau manusia setengah dewa dan menyangkut peristiwa yang terjadi di dunia lain pada masa lalu (Danandjaja,
       1994: 50).Berdasarkan isinya, mite dapat dikelompokkan menjadi (a) mite terjadinya alam semesta; (b) mite dunia dewata yang memasukkan juga cerita tentang terjadinya susunan para dewa; (c ) mite manusia pertama termasuk hal-hal yang berkaitan dengan inisiasi, misalnya, cerita manusia pertama di Kepulauan Talaud. Di dalam itu terdapat dewa penjelmaan, yakni makhluk 'ketam' yang berubah menjadi manusia; dan (4) mite pertanian, termasuk di dalamnya hal-hal yang berkaitan dengan makanan pokok. Misalnya, cerita tentang Dewi Padi.

3.        Legenda adalah dongeng asal mula terjadinya suatu tempat,  peristiwa atau keberadaan suatu daerah. Misalnya, legenda Tang-kuban Perahu, asal-usul nama Surabaya. Selain itu, ada juga legenda yang terdiri atas cerita-cerita tentang tokoh tokoh agama.
4.        Dll


B. Ciri-ciri/Karakteristik Cerita Rakyat:
1. Ciri yang paling menonjol adalah disampaikan dari mulut ke mulut.
2. menggunakan bahasa yang masih dipengaruhi oleh bahasa melayu.
3. Ceritanya berkisar pada masalah kerajaan (istanasentris).
4. Anonim, tidak ada nama pengarang.
5. Bersifat komunal, milik bersama.
6. Tokoh-tokohnya, selain raja dan keluarganya, juga binatang dan tumbuhan.
7. bersifat fiktif

C. Unsur-Unsur Cerita rakyat:
Anda juga dapat mengidentiikasi cerita rakyat berdasarkan unsur-unsur intrinsiknya, seperti tema, penokohan, latar, alur, dan amanat.

1. Tema adalah dasar cerita sebagai titik tolak dalam penyusunan cerita. Pada umumnya cerita rakyat memiliki tema cerita berkaitan dengan raja atau keluarga kerajaan, tumbuhan, bahkan hewan.
2. Alur  atau plot adalah struktur penceritaan yang di dalam- nya berisi rangkaian  kejadian atau peristiwa yang disusun berdasarkan hukum sebab akibat serta logis. Alur tersebut ada yang berupa alur maju, alur mundur, atau alur campuran.
3. Penokohan  adalah pelukisan atau pendeskripsian perwatakan tokoh-tokoh dalam cerita.
4. Latar atau setting merupakan tempat, waktu, dan keadaan  terjadinya suatu  peristiwa.
5. Sudut pandang adalah cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh dalam cerita. Sudut pandang akuan sertaan, akuan tak sertaan, dan diaan mahatahu.
6. Amanat adalah pesan-pesan atau wejangan moral yang ingin disampaikan dalam cerita bik melalui tokoh maupun melalui peristiwa yang terjadi.

D. Nilai- Nilai Dalam Cerita Rakyat:
1. Budaya
2. Moral
3. Agama

            Setelah memahami tentang cerita rakyat yuk...  kita cari cerita rakyat di seluruh indonesia! 
Sekalian kita analisis unsurnya, gimana????
Read more

13 Tak sebening tetes embun pagi.

Rabu, 14 Desember 2011

                        Tak sebening tetes embun pagi
                                  Esti suryani
Hidup tak selamanya seperti yang kita  inginkan seperti mentari yang selalu setia muncul di ufuk timur merayap dalam awan putihmu dan tenggelam diujung malam. Cakar alam akan menggenggam dalam gelap malam hingga beradu lagi diujung waktu yang terang melepas embun-embun beningnya. Seakan kehidupan terus merayap tanpa ada lagi yang berpaling kembali pada masa yang telah berganti dan tak akan pernah kembali.
Harapan yang pernah tergenggam kuat ditangannya pelan-pelan mulai ia lepas, terurai lekat di semak-semak  hijau rerumputan yang menusuk ujung-ujung kakinya yang tak beralas. Rasa cinta yang pernah melekat seakan begitu mudahnya lepas dari genggam tangannya yang erat dan lekat. Seperti butiran padi yang pernah ia genggam dengan erat dan kuat pada akhirnya akan terlepas satu persatu dan akhirnya sama sekali tak ada satu butirpun yang tersisa di telapak tangannya.
Bayu hanya memegang kepalanya dengan wajah kusut tak bersemangat tanpa berani menatap kekasihnya yang pernah ia cinta. Keduanya bersikap dingin dan beku. Di kepala masing-masing memikirkan pemikiran yang berbeda-beda. Bayu takut dengan ancaman ayahnya apabila tetap melanjutkan cintanya dengan Nadia, sementara Nadia merasa dipermainkan dengan kebimbangan Bayu yang berkepanjangan. Apalagi setelah Nadia tahu bahwa diam-diam bayu juga telah memiliki gadis lain tanpa memutus terlebih dahulu dengan Nadia sebagai kekasih.
Perasaan bersalah semakin berkepanjangan mengerogoti perasaa Bayu dan tak mampu menyampaikan rasa bersalah dan maaf pada Nadia. Terlalu banyak kesalahan yang telah ia lakukan pada Nadia hingga tak mampu disebutkan satu persatu kesalahannya dan meminta maaf dihadapan gadis yang sangat ia cintai.
“Nadia... pada awalnya aku hanya bermain-main mata dengan Amalia, aku suka pada kecantikannya, pada kemanjaannya, pada cara dia merayuku, pada cara dia membujukku saat berkencan. Masih melekat di kepalaku saat bergelayut manja dipundak kiriku dan mencium pipiku. Saat itu terasa nyaman sekali. Nadia sama sekali tidak memiliki sikap seperti itu, sama sekali tidak punya. Aku merasakan kejenuhan yang teramat sangat ketika berjalan dengan Nadia yang semakin hari semakin terasa beku”. Bayu duduk menerawang melamunkan dirinya sendiri saat  masa-masa kebersama dengan Amalia.
Bayu membuka bungkusan kado di mejanya tanpa memperhatikan ucapan ulang tahun di selembar kertas putih untuknya. Hem panjang warna biru muda dan dasi panjang biru tua dengan serat-serat lembut. Dilemparnya begitu saja kado dari Nadia ke atas kasur di dekatnya. Bayu tidak pernah lagi membutuhkan kado seperti itu dari Nadia. Amalia sudah memberikan ucapan ulang tahun tanpa kado sudah cukup baginya.
Di balai-balai teras kampus Bayu duduk sudah hampir satu jam menunggu kedatangan Amalia, tanpa disadari Nadia sudah berdiri di dekatnya.
“Mas Bayu... kamu dah terima kado dari aku... kamu suka warna biru kan?”, tanya Nadia dengan wajah berseri dan suara lembut.
“Sudah, tapi aku tidak suka warna biru, ndeso...!”, jawab Bayu sambil menepis tangan Nadia yang memegang lembut tangan kiri Bayu.
“Lho... bukannya kamu suka sekali dengan warna favoritmu itu?”. Nadia menatap mata Bayu tak percaya.
“ Yah... benar. Dulu aku sangat suka warna biru itu, tetapi sekarang sama sekali tidak aku sukai. Sudah jangan dekati aku lagi, aku muak dengan wajahmu yang membosankan itu!”, Nadia tersentak tidak percaya dengan sikap Bayu yang kasar itu.
“Apa maksudmu dengan semua ini?”, tanya nadia menyelidik.
“Kita putus... selanjutnya diantara kita tidak ada apa-apa lagi... hanya sebatas teman saja”, mata Bayu membelalak tajam ke wajah Nadia.
“Tidak bisa Bayu... selamanya aku tidak akan mau kamu putus denganmu Bayu...”, jawab Nadia dengan menangis.
“Mulut kamu tidak perlu cenggeng seperti itu, mata kamu tidak perlu menangis seperti itu, aku sudah tahu keburukanmu jadi kita benar-benar harus putus, ambil kado itu kembali dan menjauh dari aku!”. Nadia tetap tidak beranjak dari tempatnya.
“Mas Bayu... apa benar dalam tiga bulan ini kamu sudah pacaran dengan Amalia? Dalam  tiap malam minggu kamu tidak lagi ke rumahku tapi pergi bersama Amalia?”, tanya Nadia.
“Mulut kamu bisa dilakban nda sih.... cangkemu bisa dilakban nda to...kalau omong  jangan asal bacot, dah jangan ganggu aku, pergi sana!”, dengan rasa sakit, Nadia pergi meninggalkan Bayu.
Peristiwa itu selalu terngiang-ngiang di telingga Nadia, antara perasaan sayang, cinta dan benci selalu menyatu berbaur bagai warna kristal yang sulit terpisahkan lagi.
Waktu terus melaju mengajak awan putih beranjak dari satu tempat ke tempat lainnya berganti dengan awan yang semakin berjalan mendekat bagai awan gelap tebal yang siap menjatuhkan hujan badai  dan siap melahap semua isi dunia. Setelah badai tertumpahkan menyapu semua yang ada di depannya, yang ada hanya hamparan kosong sekosong hati Nadia yang telah tersapu bersih oleh kesombongan Bayu untuk menutup hatinya yang telah berpaling. Setahun sudah berjalan untuk berlatih berjalan dalam kesendirian tanpa kehadiran laki-laki manapun. Mencoba untuk memandangi diri dari kebenaran ucapan Bayu waktu itu di balai-balai teras kampus.
“Aku pernah dihardik dengan kata cenggeng, cangkemmu, bacot dll. Kenapa waktu itu aku diam saja di maki-maki seperti itu, kenapa aku tidak bisa membela diri, kenapa aku hanya bisa menangis  saja. Yah... aku sangat takut kehilangan orang yang sangat aku cintai. Sekarang dengan menjadikan  hatiku ikhlas melepas untuk tidak lagi merasa memiliki, aku tidak takut lagi kehilangan apapun dan siapapun”, guman Nadia dengan senyum memandang ke atas, ke awan putih yang selalu menyapanya tiap pagi hari. Tangannya menyentuh lembut pada embun pagi yang dinggin menahan airnya dengan kedua belah tangannya dan mengusapnya di wajahnya sambil berkata.
“Embun pagiku kau... selalu ada bersamaku menyapa lembut di kedua telingaku di tiap-tiap ujung pagi hari dengan sebongkah harapan pasti untuk hari-hari”, ucap Nadia dengan pelan dan lembut.
“Nadia... Akulah embun pagi yang selalu engkau tunggu-tunggu, aku minta maaf dan kembali menjadi penyejuk hatimu tiap pagi hari”, Nadia terperanjat melihat Bayu sepagi ini sudah menemuinya di rumahnya.
“Mas Bayu... terimakasih kau mau menemuiku tapi kuharap kedatanganmu bukan membawa hati yang penuh dengan kalimat kasar dan kotor untukku,” jawab Nadia.
“Tidak Nat... aku datang membawa hatiku yang lebih mencintaimu” jawab Bayu mendekat ke wajah Nadia.
“Tapi hatimu tidak lagi memiliki warna biru, hatimu merah seperti laki-laki lain pada umumnya yang tidak pernah memandang wajahku tiap pagi hari”, pancing Nadia.
“Nadia ...  hatiku tetap biru seperti warna kesukaan kita dulu, kita bersama lagi seperti waktu-waktu lalu, aku tidak akan lagi mengertakmu dengan kalimat-kalimat kasar dan kotor, karena aku sangat mencintaimu”, Jawa bayu menyakinkan.
“Aku tahu hatimu yang sebenarnya sangat lembut hingga kau memaafkanmu dengan ketulusan, tapi mas....”, Nadia menatap tajam mata Bayu mencari kebenaran hakiki.
“Tapi kenapa....?”, desak bayu pada nadia.
Tapi luka hati ini, sakit hati ini, kekecewaan hati ini tidak bisa terobati lagi... sudah berbekas dalam benakku, bahwa kau... mas Bayu laki-laki yang pernah bersikap kasar padaku, dimataku sekarang ini bukan lagi sorot mata mas Bayu yang sangat aku cintai tapi yang ada hanya sorot mata seorang monster yang sewaktu-waktu siap melukai dan membunuhku dengan sadis”, Bayu merunduk menyesali perbuatan yang telah ia lakukan selama ini pada Nadia.
“Kenapa kau memfonisku seperti itu Nadia...?”, tanya Bayu memprotes.
“Yang memfonis bukan aku, tapi dirimu sendiri yang telah bersikap lewat mulutmu tanpa mampu kau kendalikan. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri dengan tetap mencintai seorang monster sepertimu”, jelas Nadia.
“Lalu... apa yang akan kau lakukan dengan hubungan kita inin Nat...?”, tanya Bayu.
“Aku sekarang sudah bisa menerima ucapan putusmu ketika kita berada diteras kampus, saat kau kembalikan kado ulang tahun dariku untukmu, yah... aku terima dan kita putus. Sejak detik ini aku tidak akan menemuimu lagi mas Bayu”, jelas nadia dengan tenang dan tegas.
Nadia pergi meninggalkan Bayu yang duduk sendiri dan masuk ke dalam rumah. Sementara bayu baranjak dari kursi meninggalkan bayangan Nadia yang terus menatap hatinya dengan tatapan aneh tidak lagi sedingin embun pagi yang diharapkan didapatnya pagi ini. Bayu pergi mengendarai sepeda motornya ke arah timur menatap sinar matahari yang terasa sangat menusuk disetiap sendi-sendi nadinya.

                                                            selesai






Read more

0 PESAN DARI KARTU XLKU

Rabu, 13 Juli 2011 Label:
PESAN DARI KARTU XLKU

Hari-hari beku membentang di depan mataku, rel kereta melolor memanjang  di stasiun terakhir. Menjadi isyarat pada hitungan waktu yang selalu menunggu sunyi sendiri tanpa tepi. Ada segurat hati yang kau tinggal di sisi serambi dadaku lewat detak-detak nafasku yang mengganjal pada disetiap helaan nafas. Bahkan disetiap alunan nada-nada di hpku yang bersenandung, selalu memicu jantungku untuk mengejar alur nadiku yang terus menggusik dan menggusur hingga menerjang mengurai satu persatu syaraf-syaraf di otakku akan harapan yang selalu menggoda ujung-ujung telingaku.
Dengan penuh perjuangan hati, saat itu berhasil menumbangkan rasa keraguan yang selama ini menghimpit di sisi hatiku yang terpendam dalam. Malam itu aku mampu mengatakan aku sangat mencintaimu dan selalu ingin bersamamu. Aku masih ingat jawaban yang telah kau ucapkan untukku.
“ Ya... aku menerima cintamu merpatiku, untuk selamanya”.
Malam itu air mata haru menetes di pipiku, aku sembunyikan lewat desah angin malam dan dalam gelapnya malam. Aku sangat bahagia sekali, sekian lama... lama sekali baru sanggup kata itu keluar dari mulutku. Selama ini hanya terpendam dalam hati dalam keraguan panjang dan kelam yang terbungkus rapi dalam sampul putih. Akhirnya kutemukan juga jawaban pasti yang dulu sempat lapuk oleh waktu dan jarak.
Aku masih ingat waktu itu tengah malam, kunikmati hujan bunga api di tenggah-tengah kota Solo, di lapangan Manahan kembali kunikmati kehanggatan suasana mengawali tahun baru. Pras memegang tanganku erat-erat seakan tak mau lepas sedikitpun dari genggamanku. Wajahnya penuh harap untuk tetap bersamaku dalam setiap jengkal langkah yang terkadang tersendat oleh desakan-desakan para pengunjung di taman kota. Hampir-hampir ku tak dapat membaca warna hatinya yang memancar penuh sinar kecemasan. Berkali-kali Pras menatap matakuku lama, kemudian menatapku lagi dan menatapku lagi. Aku hanya bisa menghela nafas panjang dan berdoa semoga semua ini tidak akan pernah berakhir di awal tahun ini.                  
Malam ini aku hanya mampu menatap beku hp kecilku yang sama sekali tak pernah ada tanda-tanda kehidupan apapun yang memberikan sinyal kerinduan yang terbalas. Tiap kali terbangun dari tidur, ku sentuh layar hpku tiada juga muncul pesan darimu hingga aku tertidur kembali tanpa ada satupun pesan yang masuk. Setahun yang lalu, masih selalu muncul suaramu dan pesan-pesanmu mengajakku melaksanakan sholat malam, mengajakku melaksanakan sahur, mengajakku untuk sholat shubuh, bahkan menginggatkanku untuk selalu mengawali hari dengan senyum. Semakin hari semakin kurasakan ketergantungan azaku padamu, pada harapan yang tergambar jelas, yang selalu ada nyata di mata hati ini. Pada lembut sinar matamu dan lembut suara hatimu yang selalu menjadi penyejuk dan penenang dalam tiap gelisahku.
Sepulang dari kampus aku merasakan lelah yang teramat sangat, hingga aku tertidur disandaran kursi yang sudah mulai digerogoti usia, lusuh, dekil, dan sobek di sana-sini. Ketika kuterbangun kupandangi hp kecilku di atas meja hampir satu jam lamanya menunggu barangkali akan terdengar nada-nada pesan masuk atau telp dari Pras, ternyata tiada juga dering yang kudengar. Belum sempat ku beranjak dari kamarku menuju kamar kecil, terdengar nada hpku memangil-mangil dengan nyaring. Aku segera membatalkan keingginanku ke kamar kecil, dan menghampiri hp kecilku.  Aku pegang erat sambil berdoa semoga memang benar-benar Pras yang menyapaku, mudah-mudahan Pras tengah merasakan apa yang aku rasakan, sebuah gelombang halus gelombang kerinduan yeng selalu menekan-nekan pelan di ulu hatiku. Setelah berdoa aku buka pelan-pelan pesan yang masuk. Aku sangat kecewa, hanya mendapatkan pesan dari XL menginggatkan untuk segera mengisi pulsa karena waktu pemakaian sudah hampir habis. Pulsa aku isi tiga bulan yang lalu, satu bulan ini belum terpakai sama sekali. Aku pikir pesan dari Pras, ternyata harapanku kembali mengantung di ujung awan-awan putihmu yang tak berdinding ini.
Bulan Januari sudah berlalu jauh-jauh hari dan kini sudah memasuki bulan Januari  lagi di tahun yang berbeda. Di bulan Januari di tahun ini aku masih selalu menunggu pesan-pesan di hpku dari Pras. Tapi lagi-lagi yang aku dapatkan hanyalah pesan-pesan panjang yang membosankan dari XL. Kalau kuhadapi dengan hati pasti sudah aku banting hpku tiap kali ku buka pesan-pesan panjang itu, yang ternyata pesan dari XL bukan pesan dari Pras. Aku hanya ingat ucapanmu terakhir yang menyapa hangat di hari ulang tahunku, setelah itu kau lenyap tenggelam dalam gelap malam yang sangat membosankan.
 “Merpatiku... selamat ulang tahun, semoga hari-harimu selalu menyenangkan. aku minta maaf... Selama ini aku tidak pernah bisa ada ketika kau membutuhkan yang terbaik dariku untukmu”, kalimat itu selalu kubaca berkali-kali. Tiap hari ku buka tiga kali, saat bangun tidur, mau tidur, dan tengah malam sebelum melaksanakan sholat tahajud. Kalau dihitung selama setahun ini sudah ku buka khusus untuk menanti Pras sudah sebanyak satu juta delapan pulih kali.
Aku tak bisa berkata apa-apa, hanya air mata kepedihan yang terus menetes tiada henti. Kerinduan yang semakin lama semakin melembam sendiri oleh hentakan-hentakan jiwa yang kembali kerontang karena sentuhan teriknya yang tak pernah berhenti menerpa belahan hati yang tertinggal di sisi jalan yang teranggas dan kering. Di Awal bulan Januari ini, jiwa yang kelam  mulai merasakan munculnya sebuah kelelahan dalam penantian yang tak pernah berujung pangkal. Hp kecilku sengaja kubiarkan membisu di atas meja.  Tiap kali aku berangkat kuliah dan pulang dari kuliah aku pandang sebentar tanpa aku sentuh sedikitpun. Sakit rasanya... ketika bibir ini mulai mampu terucap isi hati yang sejujur-jujurnya mewakili keseluruhan raga dan jiwa dalam perjuangan hati yang teramat sangat dalam, dan ketika Pras mulai mengikat kuat dua hati untuk selama-lamanya seketika itu juga aku mulai merasakan keraguan untuk tetap mengikat atau melepas ikatan yang begitu kuat ini. Kini akupun tidak pernah lagi membuka pesan atau menghitung kembali dengan memaki-maki pesan-pesan XL yang masuk yang selalu memberikan getaran harapan dan kekecewaan kemudian menggubahnya dengan cepat apa yang sebenarnya terjadi. Cinta telah membuatku terbang menuju awan putihmu yang hangat dan menenangkan tapi kau tak mampu membuat seekor merpati tetap terbang dengan segala imajinasinya. Kau hanya mampu membuatku terjatuh,  terluka,  dan  tak berdaya. Sayap-sayap putihku ku kini lusuh, dan penuh luka, kakiku pun penuh darah berjalan menapaki jalan batu yang karas dan tajam. Malam itu ku tulis statusku di Facebook dan Twiterku,
 “ Biarlah anggan ini terus mengejar bayangmu menapaki sendi-sendi kerinduan yang tak akan pernah berujung pangkal”.
  Kemudian ku raih Hp kecilku, kubuka dan kuambil kartu XL di dalamnya, kurobek, ku urai pelen-pelan, dan ku gantikan dengan kartu XL yang baru. Pesan-pesan dari XL tetap muncul tapi tidak pernah lagi ku buka dengan sikap kecewa karena keikhlasan telah merumpun menghijau di jiwaku yang semakin tenang. Sebuah keikhlasanku melepas sosok Pras yang tak pernah lagi memperdulikan meski pernah menyusup hangat di kedua kakiku yang dingin ditiap ujung pagi bersama embun dini hari.
                                               ***************


Read more

1 CINTAKU YANG KELU KEMBALI BEKU

Minggu, 03 Juli 2011 Label:

CINTAKU YANG KELU KEMBALI BEKU
Esti suryani
          Laki-laki yang berwajah tampan, berbadan tegap, dan berambut cepak itu asyik memperhatikan angka-angka di layar laptopnya. Sesekali  tangannya bergerak mengubah satu persatu angka-angka yang muncul di matanya. Kesibukan itu terus dan terus bergelut dan menari-nari  dalam pikirannya, seakan hidup akan terus berlangsung selama-lamanya. Hidup baginya adalah sebuah kompetitif yang harus terus di jalani dengan persaingan-persaingan yang sehat. Hal itu telah menjadikan Rama hidup dan dewasa sebagai laki-laki yang benar-benar berjiwa matang dan penuh perhitungan dalam setiap langkah-langkahnya.
          Malam itu di meja kerja di rumahnya Rama kembali membuka laptopnya mempersiapkan berbagai surat-surat penawaran untuk para konsumen dari usaha yang telah digelutinya selama ini. Tak terasa malam sudah larut, Rama mengakhiri pekerjaannya tapi mata Rama tidak juga terpejam meski badan terasa capai. Iseng-iseng Rama mencoba untuk Online dan siap chatting malam itu , matanya tak berkedip memandang salah satu foto profil di layar laptopnya.
          “Subhanalloh... ternyata dunia sesempit ini, tak sengaja kutemukan teman yang terlupakan, ya... Adien namanya”, guman Rama sambil sibuk membuka informasi pribadi tentang Adien. Semua data tentang pribadinya sudah ia pegang, tinggal cari waktu yang tepat untuk bisa langsung Chatting dengan Adien.
          Tiba-tiba muncul sosok Adien sedang on line. Rama bingung apa yang akan ia lakukan agar bisa ngobrol dengannya. Dulu Rama pernah dekat dengan Adien dan ia sangat tertarik pada kelembutan Adien yang sangat menawan, tapi ia sendiri tidak tahu kenapa tidak melanjutkan kedekatan itu. Rama ketemu terakhir di pendopo Kabupaten Sleman, ketika upacara serah terima mahasiswa KKN, Rama ditempatkan di Sleman Selatan dan  Adien ditempatkan di Sleman Utara.  Setelah itu tidak ada komunikasi lagi, masing-masing saling sibuk dengan aktivitas KKN menulis laporan KKN dilanjutkan menulis skripsi. Mereka berdua berpisah tanpa ucapan apapun. Seperti bekunya warna awan ketika harus menahan bintik-bintik hujan dipunggungnya. Ada perasaan berat diantara keduanya untuk berucap meski sekedar kata selamat tinggal.
          Adienpun tidak berani menoleh tapak-tapak kaki yang pernah ia injak dengan Rama. Rasa kekhawatiran mendera keduanya ketika sesekali melihat dari  kejauhan mata dan kepalanya ia tundukan. Rama selalu menahan keberaniannya dan Adien menahan rasa ketakutannya pada hembusan angin kencang yang mampu melumpuhkan isi hatinya.
          Kali ini Rama melumpuhkan rasa malunya yang pernah memenjarakannya hingga terlepas dari erat genggaman tangan Adien. Ia meyapa Adien yang sedang online malam itu.
          “Assalamu alaikum Adien... “, tulis Rama dengan hati berdebar.
          “Wa’alaikum salam, siapa ya?”, tanya Adien penasaran sambil terus memandangi foto profil orang yang barusan menyapa.
          “ Aku, Rama temen kuliahmu dulu di Jogja tapi kita beda jurusan. Saat Ospek kita sering berangkat bersama karena tempat kita kost berhadapan. Jangan pernah lupa siapa yang membimbing kamu mengaji alquran”, Jelas Rama pada Adien dengan semangat tanpa menyebut nama lengkapnya.
          “ Rama...ya... aku ingat semua, kita sering beli lotek dan rujak bersama, kita pernah nonton Sekaten bersama di alun-alun Jogja, kamu sering membimbingku baca Alquran, bahkan setiap kali kamu pulang kampung pasti aku dapatkan oleh-oleh balado ayam masakan ibumu, demikian juga dengan aku, pasti aku sisihkan sebagian oleh-oleh dari ibuku untukmu”, Adien memperjelaskan lagi dengan mata berbinar. Seperti terlepas dari jalan buntu dan menemukan kembali jalan yang hilang yang diterangi penuh dengan lentera jiwa.
          Adien dan Rama mengenang kembali saat-saat indah bersama di masa kuliah sampai lupa bahwa malam sudah larut. Cicak disudut atap kamar kerjan Rama asyik bercengkrama dan bergurau berkejar-kejaran menangkap melepas dan menangkap lagi, kemudian melepasnya lagi. Sesekali saling mengigit diantara ujung-ujung ekornya yang panjang, terdengar suara cerijit diantara mulut-mulut kecilnya mengiringi kehangatan gurauannya. Melihat pemandangan itu, senyum disudut bibirnya mengembang menginggatkan pada kenangannya bersama Adien, kemudian ditutupnya laptop di mejanya.
          Pukul 02.00 malam jam berdering , menyadarkan anggannya yang terus menerawang pada celah-celah dinding yang putih beradu padu dengan warna abu-abu yang terhimpit sinar lampu malam itu. Rama bangkit dari tidur dan berjalan mengambil air wudhu untuk sholat tahajud memohon petunjukNya untuk langkah-langkah perjalannya hidupnya. 
          Adienpun belum mampu memejamkkan mata, masih menerawang pada beku hati yang sempat tergores oleh harapan-harapan yang pernah tumbuh dan menggembang, tapi kemudian terhempas hilang menjadi serpihan-serpihan yang teramat kecil di onggokan sampah. Mata Adien basah, tanpa sadar sesenggukan halus keluar dari tenggorokannya menyadari dirinya bukan perempuan satu-satunya di hati Rama, hanya ketulusan dan keikhlasan rasa yang bisa menahannya untuk tetap tersenyum menghadapi segala peristiwa meski itu sangat mengecewakan hatinya. Seperti ketika dulu Rama telah meninggalkannya tanpa ucapan sepatah katapun.
          “Kalau saja kau tahu waktu itu aku sangat sedih karena kehilangan kepergianmu dulu, kau pasti tidak akan menghubungiku lagi seperti malam ini. Kau tidak akan tega membuka lagi kekecewan itu. Kau punya hak untuk memilih sesuai keingginanmu, pada perempuan yang lebih kau cinta, aku sadar itu, kau laki-laki lebih berkuasa atas semua itu. Pada akhirnya akulah perempuan yang tersingkir dari kehidupanmu. Hanya kenapa kau pergi saat sedang tumbuh rasa cinta di hatiku, sedang menggembang perasaan suci ini, bahkan telah siap menerima apa adanya tentangmu”, guman Adien dalam hati.
          Adien berdiri berjalan keluar dari kamar mengambil air wudhu untuk sholat malam memohon agar diberi petunjuk dariNya, kalau memang ini jadi Ridhonya lanjutkan kedekatannya dengan Rama tapi kalau tidak pisahkan untuk selamanya.
          Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya Rama kembali menghubungi Adien melalui sms dan telpon. Mereka kembali saling bercanda, saling memberi semangat dan sepakat untuk melupakan masa lalu yang pernah membuat goresan lembut di relung hati masing-masing. Hingga pada suatu hari Adien on line dikejutkan oleh tulisan.
          “Mba Adien... Aku tunangan mas Rama, aku merasa terganggu dengan hubungan kalian. Hentikan permainan ini. Jangan hubungi mas Rama lagi, karena dia milikku”, bibir dan tangan Adien bergetar membaca tulisan itu, tak tahu apa yang harus di tulisnya untuk menjawab serangan perempuan yang mengaku dirinya tunangan Rama Sejak itu tunangannya telah memblokir account Rama dengan semua  yang berhubungan dengan Adien.
          Satu minggu Adien tidak online juga tidak membuka hpnya, pikiran dan hatinya tidak menentu. Untuk meraba isi hatinyapun tidak berani, apa sebenarnya yang sedang dialami. Sejak tunangan Rama menyerangnya seperti ada sesuatu yg menganjal di hatinya. Seperti  ganjalan lama yang tiba-tiba menyumbat pada sisi kerongkongannya, rasa cemburu atau bahkan rasa kehilangan, Adien sama sekali tidak mampu menentukan  rasa apa yang menderanya saat ini hingga suatu saat muncul sms di hp Adien dari Rama.
          “Adien dulu kita pernah dekat, dekat sekali. kalau suatu saat, entah di mana kita ketemu, kamu menganggapku sebagai apa?”, tanya Rama.
          “Ketika kau memilih meninggalkan aku, aku ikhlas meski terasa sedih telah kehilangan sosok dirimu. Sekarang seandainya kita ketemu, aku menganggapmu sebagai saudaraku”, jawab Adien.
          “Kenapa Adien... bukannya kamu masih memiliki rasa cinta padaku?, desak Rama.
          “Kita sama-sama menyimpan rasa cinta sampai saat ini, tapi aku merasa takut kehilangan orang-orang yang sangat aku cintai.” jawab Adien sambil  menyeka matanya yang basah. 
          “Maksudmu ...?”, tanya .
          “Ya... kau tahu, dalam waktu satu bulan aku kehilangan dua orang laki-laki yang aku sayangi. Pertama Ayahku pergi menghadapNya  kedua tunanganku yang lebih memilih Dosennya, isak Adien tak bisa ditahannya.
          “Maafkan aku, karena aku lihat kau baik-baik saja saat itu, aku tidak tahu kau banyak mengalami banyak peristiwa,” jawab Rama menunduk dengan sesal.
          “ Sejak saat ini, aku anggap kau sebagai saudaraku yang tidak akan pernah meninggalkan aku lagi untuk selamanya, “pinta Adien pada Rama.
          “Yang pasti aku tidak pernah bisa lupa dan lepas dari masa lalu  kita, kecuali aku sudah mati. Aku minta maaf tidak peduli atas peristiwa yang telah menimpamu selama ini karena memang aku tidak tahu. Aku juga minta maaf atas serangan dari perempuan yang mengaku tunanganku.
          “ Apa benar dia Tunanganmu Mas..? tanya Adien..
          “ Ya... benar...  dia tunanganku resmi, jawab Rama pelan.
          “ Mas Rama... kalau begitu aku juga minta maaf, aku yang salah karena tanpa sengaja aku telah mengusik ketenagan dan kebahagiaanmu dengan tunanganmu” lanjut Adien.
          “ Adien... aku yang salah telah melibatkan perasaanmu dalam kehidupanku. Sekali lagi aku minta maaf, kalaupun waktu bisa ku ulang, aku akan tetap memegang erat tanganmu untuk selamanya”, tegas Rama.
“Aku yang minta maaf... dan terimakasih banyak... kau telah memberiku kesempatan hingga singgah di hatiku meski dalam waktu yang singkat. Kalau memang berjodoh Alloh swt pasti akan mempertemukan kita kapanpun dan dimanapun”, Jawab Adien dengan menahan isak dalam-dalam dan mematikan Hpnya tanpa menunggu balasan jawaban dari Rama.     
Menyadari hal itu Rama hanya bisa duduk merunduk menekur pada butiran-butiran pasir kecil yang menyisir jalanan yang melintang dihadapannya.  
         
Selesai
Masa lalu tidak akan pernah terlupakan, jika suatu saat bertemu dengan masa lalu hanyalah proses mendewasakan diri bukan untuk kembali. Tapi kehendakNya lebih pasti dari sekedar menuruti sebuah keingginan rasa. 
* Terima kasih buat saudara teman dan sahabatku Mas Nur... yang sudah kasih inspirasi.
* Adien sayang... kamu sudah bisa apa sekarang?
                                                       Surakarta, 1 juli 2011
         
         


         
           

                  
Read more
 
UNGKAPAN SANG MERPATI PUTIH © 2010 | Designed by Blogger Hacks | Blogger Template by ColorizeTemplates